Tampilkan postingan dengan label Info Umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Umum. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Oktober 2014

MANFAAT MAINAN EDUKATIF

MANFAAT MAINAN EDUKATIF

* Melatih kemampuan motorik
Stimulasi untuk motorik halus diperoleh saat anak menjumput
alat permainannya, meraba alat permainan edukatif, memegang mainan bayi dengan kelima jarinya, dan sebagainya. Sedangkan rangsangan motorik kasar didapat anak saat menggerak-gerakkan permainan edukatifnya, melempar alat peraga, mengangkat alat mainan, dan sebagainya.

* Melatih konsentrasi
Alat permainan edukatif dirancang untuk menggali kemampuan anak, termasuk kemampuannya dalam berkonsentrasi. Saat menyusun mainan kayu pasel, katakanlah, anak dituntut untuk fokus pada gambar mainan bayi atau bentuk alat peraga yang ada di depannya -- ia tidak berlari-larian atau melakukan aktivitas fisik lain sehingga konsentrasinya bisa lebih tergali. Tanpa konsentrasi, bisa jadi hasil menyusun mainan edukasi tidak memuaskan.

* Mengenalkan konsep sebab akibat
Contohnya, dengan memasukkan
mainan kayu benda kecil ke dalam alat mainan yang besar anak akan memahami bahwa benda yang lebih kecil bisa dimuat dalam benda yang lebih besar. Sedangkan benda yang lebih besar tidak bisa masuk ke dalam benda yang lebih kecil. Ini adalah pemahaman konsep sebab akibat mainan edukasi yang sangat mendasar.

* Melatih bahasa dan wawasan
Permainan edukatif sangat baik bila dibarengi dengan penuturan cerita. Hal ini akan memberikan manfaat tambahan buat anak, yakni meningkatkan kemampuan berbahasa juga keluasan wawasannya.

* Mengenalkan warna dan bentuk
Dari
alat permainan, anak dapat mengenal ragam/variasi bentuk dan warna. Ada benda berbentuk kotak, segiempat, bulat dengan berbagai warna; biru, merah, hijau, dan lainnya.

Apa saja manfaat permainan edukatif bagi anak
APA SAJA MANFAAT MAINAN EDUKATIF ?

* Melatih kemampuan motorik
         Stimulasi untuk motorik halus diperoleh saat anak menjumput mainannya, meraba, memegang dengan kelima jarinya, dan sebagainya. Sedangkan rangsangan motorik kasar didapat anak saat menggerak-gerakkan mainannya, melempar, mengangkat, dan sebagainya.

* Melatih konsentrasi
        Mainan edukatif dirancang untuk menggali kemampuan anak, termasuk kemampuannya dalam berkonsentrasi. Saat menyusun pasel, katakanlah, anak dituntut untuk fokus pada gambar atau bentuk yang ada di depannya -- ia tidak berlari-larian atau melakukan aktivitas fisik lain sehingga konsentrasinya bisa lebih tergali. Tanpa konsentrasi, bisa jadi hasilnya tidak memuaskan.

* Mengenalkan konsep sebab akibat
       Contohnya, dengan memasukkan benda kecil ke dalam benda yang besar anak akan memahami bahwa benda yang lebih kecil bisa dimuat dalam benda yang lebih besar. Sedangkan benda yang lebih besar tidak bisa masuk ke dalam benda yang lebih kecil. Ini adalah pemahaman konsep sebab akibat yang sangat mendasar.

* Melatih bahasa dan wawasan
       Permainan edukatif sangat baik bila dibarengi dengan penuturan cerita. Hal ini akan memberikan manfaat tambahan buat anak, yakni meningkatkan kemampuan berbahasa juga keluasan wawasannya.

* Mengenalkan warna dan bentuk
       Dari mainan edukatif, anak dapat mengenal ragam/variasi bentuk dan warna. Ada benda berbentuk kotak, segiempat, bulat dengan berbagai warna; biru, merah, hijau, dan lainnya.


IDENTIFIKASI DINI DAN ASESMENT ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

IDENTIFIKASI DINI DAN ASESMENT ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

A. Hakekat Identifikasi Dini dan Asesmen

Istilah identifikasi dan asesmen sering dipergunakan secara bergantian. Secara harfiah seseungguhnya identifikasi berbeda dengan asesmen .

Identifikasi dini merupakan pada tahapan awal yang masih bersifat global/kasar dari asesmen yang lebih rinci dan hal detail. Tujuan dari identifikasi dini dan asesmen juga berbeda . Hal ini menyangkut kompetensi dan profesionalisme.


Identifikasi dini sering dimaknai sebagai proses penjaringan awal mungkin, sedangkan asesmen dimaknai sebagai penyaringan. Identifikasi dini Anak Berkebutuhan Khusus dimaksudkan sebagai suatu upaya seseorang (orang tua, guru, maupun tenaga kependidikan lainnya) untuk melakukan proses penjaringan terhadap anak yang mengalami kelainan/penyimpangan (phisik, intelektual, social, emosional/ tingkah laku) seawal mungkin dalam rangka pemberian layanan pendidikan yang sesuai. Hasil dari identifikasi adalah ditemukannya anak-anak berkebutuhan khusus yang perlu mendapatkan layanan pendidikan khusus melalui program inkulusi. Pengelompokan anak berkebutuhan khusus dapat dibagi menjadi:

  1. Tunanetra/ anak yang mengalami gangguan penglihatan;
  2. Tunanrungu/ anak yang mengalami gangguan pendengaran;
  3. Tunadaksa/ anak yang mengalami kelainan anggota tubuh/ gerakan;
  4. Anak Berbakat/ anak yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa;
  5. Tunagrahita;
  6. Anak lamban belajar;
  7. Anak yang mengalami kesulitan belajar spesifik (disleksia, disgrafia, atau diskalkulia);
  8. Anak yang mengalami gangguan komunikasi; dan
  9. Tunalaras/ anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku
Sesuai keperluan pembelajaran dan layanan khusus lain yang sesuai dengan kebutuhan anak, dapat dilanjutkan dengan kegiatan asesmen.
Kegiatan asesmen ini lebih ditekankan pada upaya
  1. Asesmen akademik,
  2. Asesmen sensorik dan motorik,
  3. Asesmen pribadi dan sosial, dan
  4. Asesmen lain yang dianggap perlu.
Dengan asesmen akan diketahui kelemahan/ kesulitan anak dalam satu hal, kekuatan/potensi/kemampuan dan kelebihan anak dalam satu hal, serta kebutuhan layanan khusus yang diperlukan utnuk mengatasi satu hal.

B. Tujuan Identifikasi Dini


Secara umum tujuan identifikasi ini adalah untuk menghimpun informasi seawal munggkin apakah seorang anak mengalami kelainan/penyimpangan (phisik, intelektual, sosial, emosional, dan atau sensoris neurologis) atau tidak. Disebut mengalami kelainan/ penyimpangan tentunya harus dibandingkan dengan anak lain yang sebaya dengannya. Hasil dari identifikasi akan dilanjutkan dengan asesmen, yang hasilnya akan dijadikan dasar untuk penyusunan program pembelajaran sesuai dengan kemampuan dan ketidakmampuannya.

Dalam rangka pendidikan inklusi, kegiatan identifikasi Anak Berkebutuhan Khusus dilakukan untuk lima keperluan, yaitu:

  1. penjaringan (screening),
  2. pengalihtanganan (referal),
  3. klasifikasi,
  4. perencanaan pembelajaran, dan
  5. pemantauan kemajuan belajar.
Adapun Penjelasan dari kegiatan tersebut sebagai berikut:


1. Penjaringan (screening)

Penjaringan dilakukan terhadap semua anak dikelas dengan Alat Identifikasi Anak Berkebutuhan Khusus. Contoh alat identifikasi terlampir. Pada tahap ini identifikasi berfungsi menandai anak-anak mana yang menunjukan gejala-gejala tertentu, kemudian menyimpulkan anak-anak mana yang mengalami kelainan/penyimpangan tertentu, sehingga tergolong Anak Berkebutuhan Khusus.

Dengan alat identifikasi ini guru, orang tua, maupun tenaga profesional terkait, dapat melakukan kegiatan penjaringan secara baik dan hasilnya dapat digunakan untuk bahan penanganan lebih lanjut.


2. Pengalihtanganan (referal)

Berdasarkan gejala-gejala yang dtemukan pada tahap penjaringan, selanjutnya anak-anak dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok. Pertama, ada anak yang tidak peru dirujuk ke ahli lain (tenaga profesional) dan dapat langsung ditangani sendiri oleh guru dalam bentuk layanan pembelajaran yang sesuai.

Kedua, ada anak yang perlu dirujuk ke ahli lain terlebih dulu (referal) seperti psikolog, dokter, orthopedagog (ahli PLB), dan atau therapis, baru kemudian ditangani oleh guru.

Proses perujukan anak oleh guru ke tenaga professional lain untuk membantu mengatasi masalah anak yang bersangkutan disebut proses pengalihtanganan (referral). Jika tenaga professional tersebut tidak tersedia dapat diminintakan bantuan ke tenaga lain yang ada seperti Guru Pembimbing Khusus (Guru PLB) atau Konselor.


3. Klasifikasi

Pada tahap klasifikasi, kegiatan identifikasi bertujuan untuk menentukan apakah anak yang telah dirujukke tenaga professional benar-benar memerlukan penanganan lebih lanjut atau langsung dapat diberi pelayanan pendidikan khusus.

Apabila berdasar pemeriksaan tenaga professional ditemukan maslaah yan gperlu penanganan lebih anjut (misalnya pengobatan, therapy, latihan-latihan khusus, dan sebagainya) maka guru tinggal mengkomunikasikan kepada orang tuasiswa yang bersangkutan. Jadi guru tidak mengobati dan atau memberi therapy sendiri, melainkan menfasilitasi dan meneruskan kepada orang tua tentang kondisi anak yang bersangkutan. Guru hanya akan membantu siswa dalam hal pemberian pelayanan pendidikan sesuai dengan kondisi anak. Apabila tidak ditemukan tanda-tanda yang cukup kuat bahwa anak yang bersangkutan memerlukan penanganan lebih lanjut, maka anak dapat dikembalikan ke kelas semula untuk mendapatkan pelayanan pendidikan khusus.


Kegiatan klasifikasi ini memilah-milah mana Anak Berkebutuhan Khusus yang memerlukan penanganan lebih lanjut dan mana yang langsung dapat mengikuti pelayanan pendidikan khusus di kelas reguler.


4. Perencanaan Pembelajaran

Pada tahap ini, kegiatan identifikasi bertujuan untuk keperluan penyusunan program pembelajaran yang diindividualisasikan (PPI). Dasarnya adalah hasil dari klasifikasi. Setiap jenis dan gradiasi (tingakt kelainan) Anak Berkebutuhan Khusus memerlukan program pembelajaran yang berbeda satu sama lain. Mengenai program pembelajaran yang diindividualisasikan (PPI) akan dibahas secara khusus dalam buku yang lain tentang pembelajaran dalam pendidikan inklusi.

5. Pemantauan Kemajuan Belajar

Kemajuan belajar perlu dipantau untuk mengetahui apakah program pembelajaran khusus yang diberikan berhasil atau tidak. Apabil adalam kurun waktu tertentu anak tidak mengalami kemajuan yang signifikan (berarti), maka perlu ditinjau lagi beberapa aspek yang berkaitan. Misalnya apakah diagnosis yang dibuat tepat atau tidak, Program Pembelajaran Individual (PPI) yang disusun sesuai atau tidak, bimbingan belajar khusus yang diberikan sesuai atau tidak, dan seterusnya.

Sebaliknya, apabila dengan program khusus yang diberikan, anak mengalami kemajuan yang cukup signifikan maka program tersebut perlu diteruskan sambil memperbaiki/ menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang ada.

Dengan lima tujuan khusus diatas, identifikasi perlu dilakukan secara terus menerus oleh guru, dan jika perlu dapat meminta bantuan dan atau bekerja sama dengan tenaga professional terkait.

C. Sasaran Identifikasi

Secara umum sasaran identifikasi Anak Berkebutuhan Khusus adalah seluruh anak usia pra- sekolah dan usia sekolah dasar. Sedangkan secara khusus (operasional), sasaran identifikasi Anak Berkebutuhan Khusus adalah:
  1. Anak yang sudah bersekolah di Sekolah Dasar/ Madrasah Ibtidaiyah;
  2. Anak yang akan masuk ke Sekolah Dasar/ Madrasah Ibtidaiyah;
  3. Anak yang belum/ tidak bersekolah karena orangtuanya merasa anaknya tergolong Anak Berkebutuhan Khusus sedangkan lokasi SLB jauh dari tempat tinggalnya; sementara itu, semua SD terdekat belum/ tidak mau menerimanya;
  4. Anak yang drop-out Sekolah Dasar/ Madrasah Ibtidaiyah karena faktor akademik.

D. Petugas Identifikasi

Untuk mengidentifikasi seorang anak apakah tergolong Anak Berkebutuhan Khusus atau bukan, dapat dilakukan oleh:
  1. Guru kelas;
  2. Orang tua anak; dan atau
  3. Tenaga proffesional terkait.
E. Pelaksanaan Identifikasi

Ada beberapa langakah dalam rangka pelaksanaan identifikasi anak berkebutuhan khusus. Untuk identifikasi anak usia sekolah yang belum bersekolah atau drop out sekolah, maka sekolah yan gbersangkutan perlu melakukan pendataan ke masyarakat sekitar kerjasama dengan Kepala Desa/ Lurah, RT, RW setempat. Jika pendataan tersebut ditemukan anak berkelainan, maka proses berikutnya dapat dilakukan pembicaraandengan orang tua, komite sekolah maupun perangkat desa setempat untuk mendapatkan tindak lanjutnya.

Untuk anak-anak yang sudah masuk dan menjadi siswa pada sekolah tertentu, identifikasi dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:


1. Menghimpun Data tentang Anak
Pada tahap ini petugas (guru) menghimpun data kondisi seluruh siswa dikelas (berdasar gejala yan gnampak pada siswa) dengan menggunakan alat Identifikasi Anak Berkebutuhan Khusus (AI ALB). Lihat format 3 terlampir.

2. Menganalisis Data dan Mengklasifikasi Anak
Pada tahap ini tujuannya adalah untuk menemukan anak-anak yang tergolong Anak Bekebutuhan Khusus (yang memerlukan pelayanan pendidikan khusus). Buatlah daftar nama anak yang diindikasikan berkelainan sesuai dengan ciri-ciri dan standar nilai yang ditetapkan. Jika ada anak yang memenuhi syarat untuk disebut atau berindikasi kelainan sesuai dengan ketentuan tersebut, maka dimasukan ke dalam daftar nama-nama anak yang berindikasi kelainan sesuai dengan format khususyang disediakan seperti terlampir (lihat format 4). Sedangkan untuk anak-anak yan gtidak menunjukan gejala atau tanda-tanda berkelainan, tidak perlu dimasukan ke dalam daftar khusus tersebut.

3. Mengadakan Pertemuan Konsultasi dengan Kepala Sekolah
Pada tahap ini, hasil analisis dan klasifikasi yang telah dibuat guru dilaporkan kepada Kepala Sekolah untuk mendapat saran-saran pemecahan atau tindak lanjutnya.


4. Menyelenggarakan pertemuan kasus (case conference)
Pada tahap ini, kegiatan dikoordinasi oleh Kepala Sekolah setelah data Anak Berkebutuhan Khusus terhimpun dari seluruh kelas. Kepala Sekolah dapat melibatkan: (1) Kepala Sekolah; (2) Dewan Guru; (3) orang tua/ wali siswa; (4) tenaga frofessional terkait, jika tersedia dimungkinkan; (5) Guru Pembimbing Khusus (Guru PLB) jika tersedia dan memungkinkan.

Materi pertemuan kasus adalah membicarakan temuan dari masing-masing guru mengenai hasil identifikasi untuk mendapatkan tanggapan dan cara-cara pemecahan serta penanggulangannya.

5. Menyusun laporan hasil pertemuan kasus

Pada tahap ini, tanggapan dan cara-cara pemecahan masalah dan penanggulangannya perlu dirumuskan dalam laporan hasil pertemuan kasus. Format laporan hasil pertemuan kasus, dapat menggunakan contoh seperti yang terlampir (lihat format 5)

6. Alat Identifikasi

Secara sederhana ada beberapa aspek informasi yang perlu mendapatkan perhatian dalam pelaksanaan identifikasi. Contoh alat identifikasi sederhana untuk membantu guru dan orang tua dalam rangka menemukenali anak yang memerlukan layanan pendidikan khusus, antara lain sebagai berikut:


Form 1 : Informasi riwayat perkembangan anak
Form 2 : Informasi/ data orangtua anak/wali siswa
Form 3 : Informasi profil kelainan anak (AI-ALB)


Dari ketiga informasi tersebut secara singkat akan dijelaskan sebagai berikut:

1. Informasi Riwayat Perkembangan Anak

Informasi riwayat perkembangan anak adalah informasi mengenai keadaan anak sejak di dalam kandungan hingga tahun-tahun terakhir sebelum masuk sekolah. Informsi ini penting, sebab dengan mengetahui latar belakang perkembangan anak, kita akan menemukan sumber penyebab problema mengajar. Informasi mengenai perkembangan anak sangat penting bagi guru sebagai pertimbangan dalam membuat program pembelajaran yang akan diberikan kepada anak. Informasi perkembangan anak mencakup identitas anak, riwayat masa kelahiran, perkembangan masa balita, perkembangan fisik, perkembangan sosial, dan perkembangan pendidikan.


Riwayat masa kehamilan dan kelahiran mei[uti perkembangan masa kehamilan, penyakit yang diderita ibu, usia di dalam kandungan, proses kelahiran, tempat kelhiran, penolong persalinan, gangguan pada saat proses kelahiran, berat badan bayi, dan tanda-tanda kelainan bayi. Perkembangan masa balita mencakup informasi mengenai lama menyusus ibunya, usia akhir minum susu kaleng,kegiatan imunisasi, penimbangan, kualitas dan kuantitas makanan pada masa balita, kesulitan makan yang dialami, dan sebagainya.

Perkembangan fisik diperlukan terutama data mengenai kapan anak mulai dapat merangkak, berdiri, berjalan, naik sepeda roda tiga, naik sepeda roda dua, berbicara dengan kalimat lengkap, kesulitan gerakan yang dialami, status gizi balita, dan riwayat kesehatan.


Perkembangan sosial terutama berkaitan dengan hubungan dengan sudara, hubungan dengan teman, hubungan dengan orang tua dan guru, hobi anak, dan minat khusus. Perkembangan pendidikan meliputi informasi mengenai kapan masuk TK, berapa lama pendidikan di T K, kapan masuk S D, apa kesul;itan selama di T K, apa kesulitan selama di S D, apakah pernah tinggal kelas, pelayanan khusus yang pernah diberikan, prestasi belajar tiap semester, mata pelajaran yang dirasakan paling sulit, dan mata pelajaran yang paling disenangi.

2. Data Orang Tua/ Wali Siswa


Selain data mengenai anak, tidak kalah pentingnya adalah informasi mengenai keadaan orang tua/wali siswa yang bersangkitan. Dalam beberapa penelitian diketahui bahwa lingkungan keluarga mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap keberhasilan belajar anak. Lingkungan keluarga dapat meliputi pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, status sosial ekonomi, sikap dan penerimaan orang tua terhadap anak, serta pola asuh yang diterapkan keluarga terhadap anak.


Data orang tua/wali siswa sekurang-kurangnya mencakup informasi mengenai identitas orang tua/wali, hubungan orang tua-anak, data sosial ekonomi orang tua, serta tanggungan dan tanggapan orang tua/keluarga terhadap nak. Identitas orang tua harus lengkap, tidak hanya identitas ayah melainkan juga identitas ibu, misalnya umur, agama, status pendidikan, pekerjaan pokok, pekerjaan sampingan, dan tempat tinggal. Hubungan orang tua-anak menggambarkan sejauh mana intensitas komunikasi antara orang tua dan anak, misalnya apakah kedua orang tua satu rumah atau tidak, demikian juga dengan anak. Apakah diasuh salah satu orang tua, pembantu, atau keluarga lain. Semua kondisi tersebut mempunyai pengaruh terhadap hasil belajar anak.

3. Informasi Mengenai Profil Kelainan Anak

Informasi mengenai gangguan/kelinan anak sangat penting, sebab dari beberapa penelitian terbukti bahwa anak-anak yang prestasi belajarnya rendah cenderung memiliki gangguan/kelainan penyerta. Survei terhadap 696 siswa S D dari empat Provinsi di Indonesia yang rata-rata nilai rapornya kurang dari 6,0 (enam, nol), ditemukan bahwa 71,8% mengalami disgrafia, 66,8% disleksia, 62,2% diskalkulia, juga 33% mengalami gangguan emosi dan perilaku, 31 % gangguan komunikasi, 7,9% cacat (kelainan anggota tubuh, 6,6% gangguan gizi dan kesehatan, 6 % gangguan penglihatan, dan 2 % gangguan pendengaran.


Tanda-tanda kelainan atau gangguan khusus pada siswa (jika ada) perlu diketahui guru. Kadang-kadang adanya kelainan khusus pada diri anak, secara langsung atau tidak langsung, dapat menjadi salah satu faktor timbulnya problema belajar. Tentu saja hal ini sangat bergantung pada berat ringannya kelainan yang dialami serta sikap penerimaan anak terhadap kondisi tersebut.

F. Tindak Lanjut Kegiatan Identifikasi


Sebagai tindak lanjut dan kegiatan identifikasi anak berkelainan untuk dapat memberikan pelayanan pendidikan yang sesuai, maka dilakukan tindak lanjut sebagai berikut:

1. Pelaksanaan Asesmen

Asesmen merupakan kegiatan penyaringan terhadap anak-anak yang telah teridentifikasi sebagai anak berkebutuhan khusus . Kegiatan asesmen dapat dilakukan oleh guru (untuk beberapa hal), dan tenaga profesional lain yang tersedia sesuai dengan kompetensinya. Kegiatan asesmen meliputi beberapa bidang, antara lain:

a. Asesmen Akademik

Asesemen akademik sekurang-kurangnya meliputi tes kemampuan membaca, menulis dan berhitung.


b. Asesmen Sensorik dan Motorik:
Asesmen sensorik terutama untuk mengetahui ganguan penglihatan, pendengaran. Sedangkan asesmen motorik untuk mengetahui gangguan motorik halus maupun kasar yang mungkin dapat mengganggu pembelajaran bidang yang lain.

c. Asesemen Psikologik, Emosi dan Sosial.

Asesmen psikologik dapat digunakan untuk mengetahui potensi intelektual dan kepribadian abak, Juga dapat diperluas dengan tingkat emosi dan sosial anak.

d. Asesemen lain yang dianggap perlu:
Misalnya aspek kesehatan, status gizi dan perkembangan fisik anak. Informasi ini sangat penting karena aspek kesehatan sangat berpengaruh terhadap konerja belajar anak.
Ada bagian-bagian tertentu yang dalam pelaksanaan asesmen mebutuhkan tenaga profesional sesuai dengan kewenangannya. Guru dapat membantu dan memfasilitasi terselenggaranya asesmen tersebut sesuai dengan kemampuan orang tua dan sekolah.

2. Perencanaan Pembelajaran dan Pengorganisasian Siswa


Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan dapat meliputi: menetapkan bidang atau aspek problema belajar yang akan ditangani. Apakah seluruh mata pelajaran, sebagian mata pelajaran, atau hanya bagian tertentu dari suatu mata pelajaran. Menetapkan pendekatan pembelajaran yang akan dipilih termasuk rencana pengorganisasian siswa, apakah bentuknya berupa pelajaran remedial, pengayaan, pendekatan kooperatif, atau kompetitif, dan lain-lain, menyususun program individual.

3. Pelaksanaan Pembelajaran

Pada tahap ini guru melaksanakan program pembelajaran serta pengorganisasian siswa berkelainan dalam kelas reguler sesuai dengan rancangan yang telah disusun dan ditetapkan pada tahap sebelumnya. Sudah tentu pelaksanaan pembelajaran harus senantiasa disesuaikan dengan perkembangan dan kemampuan anak, tidak dapat dipaksakan sesuai dengan target yang akan dicapai oleh guru. Program tersebut bersifat fleksibel.


4. Pemantauan Kemajuan Belajar dan Evaluasi


Untuk mengetahui keberhasilan guru dalam membantu mengatasi kesulitan belajar anak, perlu dilakukan pemantauan secara terus menerus terhadap kemajuan dan/atau bahkan kemunduran belajar anak . Jika anak mengalami kemajuan dalam belajar, pendekatan yang dipilih guru perlu terus dimantapkan , tetapi jika tidak terdapat kemajuan perlu diadakan peninjauan kembali, baik mengenai isi dan pendekatan program, maupun motivasi anak yang bersangkutan untuk memperbaiki kekurangan-kekurangannya. Dengan demikian diharapkan akhirnya semua problema belajar anak secara bertahap dapat diperbaiki sehingga anak terhindar dari kemungkinan tidak naik kelas atau bahkan putus sekolah.


REFERENSI

Amos, N.W. (1978). The Black Child – Language and Communication. New York: Africana Research Publication.

David Smith,J. And Dean. (2003). Inclusion Schools for All Students. An International Thomson Publishing Company.
Depdiknas. (2002). Paket Penanganan Siswa Berkesulitan Belajar Untuk Guru Kepala Sekolah dan Pembina Sekolah Dasar. Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Nasional. Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan. Jakarta.
Direktorat Pendidikan Luar Biasa. (2004). Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Terpadu/Inklusi. Alat Identifikasi Anak Berkebutuhan Khusus, Dirjen Dikdasmen, Departemen Pendidikan Nasional.
Foreman, P. (2001). Integration and Inclusion in Action. Tnelson Thomson Learning. Australia.
Mason, and Stephen, M. (1997). Visual Impairment Acces to Education for Children and Young People. London: David Fulton Publishers.
Sunardi. (2003). Sistem Pembelajaran Kelas Inklusi, Workshop Pendidikan Inklusi. Semarang: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah.
UNESCO. (2004). Menciptakan Kelas Inklusif, Ramah Terhadap Peserta Didik. Direktorat Pendidikan Luar Biasa dan Braillo. Norway
Universitas Pendidikan Indonesia. (2002). Pendidikan Kebutuhan Khusus Sebuah Pengantar. Direktorat Pendidikan Luar Biasa. Departemen Pendidikan Nasional. Braillo Norway. Universitas Oslo.

Jumat, 24 Juni 2011

Mitos Autisme

Mitos

KELIRU: Autisme disebabkan cara pengasuhan yang salah dari orangtua
BENAR:  Autisme BUKAN kondisi emosional dimana anak menjauh dari orang tuanya tetapi merupakan akibat perkembangan neurobiologist di otak dan karena itu TIDAK disebabkan oleh cara pengasuhan yang salah.
KELIRU: individu autistik tidak bisa merasakan dan menyalurkan emosi mereka, kecuali emosi marah atau senang.
BENAR:  Individu autistik TIDAK kehilangan kemampuan untuk mempunyai hubungan emosional dan bisa diharapkan untuk mengembangkan kepekaan emosional seperti individu lain pada umumnya.
KELIRU: Semua individu autistik sebaiknya mengikuti terapi xxx, xxx. Kalau tidak autisme mereka akan makin parah.
BENAR:   TIDAK ada satu pun terapi yang dapat dipakai untuk memperbaiki SEMUA gejala pada SEMUA individu. Penanganan harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu, sehingga penanganan pada setiap individu tidak dapat disama-ratakan.
KELIRU:  Setiap individu autistik pasti punya kemampuan khusus yang melebihi individu lain pada umumnya.
BENAR: Individu autistik TIDAK selalu mempunyai kemampuan jenius. Mereka berkembang seperti individu lain pada umumnya, dengan kecerdasan yang bervariasi, bakat yang berbeda-beda, dan kesempatan yang tidak sama.
KELIRU:  Autisme adalah sebuah penyakit mental.
BENAR:  Autisme BUKAN penyakit mental dan penyandang autis TIDAK cacat mental.

Pengertian Autisme

Pengertian


1. Apa itu autisme?


Autisme adalah gangguan perkembangan kompleks yang gejalanya harus sudah muncul sebelum anak berusia 3 tahun. Gangguan neurologi pervasif ini terjadi pada aspek neurobiologis otak dan mempengaruhi proses perkembangan anak. Akibat gangguan ini sang anak tidak dapat secara otomatis belajar untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya, sehingga ia seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri.


2. Apa saja gejalanya?


Gejala individu autistik yang harus muncul (salah satu atau kesemuanya) adalah gangguan interaksi kualitatif, gangguan komunikasi yang tidak diusahakan diatasi dengan kemampuan komunikasi non-verbal, dan perilaku repetitif terbatas dengan pola minat, perilaku dan aktifitas berulang.


3. Bagaimana mendiagnosa autisme?


Walaupun tidak ada satu tes khusus yang tersedia untuk mendiagnosa gangguan perkembangan ini, melalui observasi kriteria-kriteria spesifik dapat ditegakkan satu diagnosa konsensus.


4. Siapa yang berwenang menegakkan diagnosis bahwa seseorang itu autistik?


Apakah seseorang dapat dinyatakan sebagai individu autistik atau tidak, ditentukan melalui tahapan wawancara mendalam dengan orang-orang yang mengasuh anak dan paham akan perkembangan anak di tiga tahun pertama kehidupannya, observasi serta interaksi dengan anak tersebut.


Dokter dan psikolog biasanya adalah profesi-profesi yang dijadikan ujung tombak penanganan individu autistik. Profesi lain seperti guru, terapis, maupun pihak saudara, serta orangtuanya sendiri dan anggota masyarakat umum memegang peranan penting dalam memberikan data mengenai kondisi anak sehari-hari secara detil.


5. Apa penyebab autisme?


Sampai saat ini, apa yang menjadi penyebab gangguan spektrum autisme ini belum dapat ditetapkan. Negara-negara adikuasa yang sanggup melakukan penelitian menyatakan bahwa penyebab gangguan perkembangan ini merupakan interaksi antara faktor genetik dan berbagai paparan negatif yang didapat dari lingkungan.


6. Apa saja penanganan yang tersedia bagi individu autistik di Indonesia?


Berbagai terapi terbukti membantu meningkatkan kualitas hidup individu autistik. Penanganan yang sudah tersedia di Indonesia antara lain adalah terapi perilaku, terapi wicara, terapi komunikasi, terapi okupasi, terapi sensori integrasi, pendidikan khusus, penanganan medikasi dan biomedis, diet khusus. Penanganan lain seperti integrasi auditori, oxygen hiperbarik, pemberian suplemen tertentu, sampai terapi dengan lumba-lumba juga sudah tersedia di beberapa kota besar.








7. Apa saja kemungkinan pendidikan bagi mereka?


Individu autistik tidak berbeda dengan individu lain non-autistik. Artinya, kecerdasan setiap individu sangat bervariasi.. Karena tingkat kecerdasan setiap individu berbeda, intensitas gejala autistik yang ada pada setiap individu juga tidak sama, maka kemungkinan pendidikan bagi individu autistik bervariasi dari ‘bisa mencapai pendidikan setinggi-tinggi mungkin’, sampai ‘tidak bisa dididik tetapi hanya dapat dilatih saja’.


Setiap individu berbeda.


8. Bagaimana prognosa bagi individu autistik?


Prognosa dan hasil akhir tergantung banyak aspek, antara lain: jumlah dan intensitas gejala, usia deteksi, jenis dan intensitas penanganan, serta peranan orang tua dalam generalisasi penanganan ke dalam kehidupan sehari-hari.


Hasil akhir penanganan, tidak dapat diprediksi karena merupakan interaksi banyak sekali faktor. Penanganan merupakan perjuangan panjang dan perlu kerja keras tak terputus sebelum memberikan hasil yang efektif efisien.


9. Adakah kemungkinan bagi individu autistik untuk “sembuh”?


Karena autisme merupakan gangguan perkembangan dan bukan suatu penyakit, penggunaan istilah “sembuh“ menjadi kurang tepat. Yang lebih tepat adalah bahwa individu autistik dapat ditatalaksana agar bisa berbaur dengan individu lain di masyarakat luas semaksimal mungkin, dan pada akhirnya dapat beradaptasi dengan berbagai situasi yang juga dihadapi orang lain pada umumnya.


10. Apakah penggunaan istilah ‘penderita autisme’ sudah tepat?


Istilah ‘penderita’ untuk menggambarkan masing-masing anak, jelas kurang bijak. Anak-anak ini tidak sedang menderita.


Lebih bijak bila kita mengacu pada ‘perbedaan individual’ setiap anak dan pada akhirnya atas dasar melihat ciri-ciri unik setiap anak tersebut kemudian menyebut mereka sebagai ‘individu autistik’.


11. Ada berapa orang individu autistik di Indonesia saat ini di tahun 2008?


Indonesia belum pernah melakukan survei berkaitan dengan jumlah individu autistik, karena alasan biaya dan tenaga kerja. Akibat belum dilakukannya survei tersebut, tentu saja kita tidak bisa memastikan berapa jumlah prevalensi individu autistik di Indonesia. Belum ada satu pun lembaga resmi di Indonesia yang memiliki angka prevalensi kejadian individu autistik di Indonesia di tahun 2008 sesuai fakta di lapangan.


12. Apakah betul terjadi peningkatan jumlah individu autistik?


Di Amerika, Inggris, Australia, pemerintah setempat sudah melaksanakan survei untuk mengetahui jumlah individu autistik dari tahun ke tahun. Di Indonesia, indikator peningkatan baru dapat diperoleh dari catatan praktek dokter – yang dari menangani 3-5 pasien baru per tahun, kini menangani 3 pasien baru setiap hari dan itu pun dibatasi – dan catatan penerimaan siswa di sekolah-sekolah. Sulit mendapatkan angka di Indonesia mengingat bahwa belum ada sensus secara resmi, belum meratanya diagnosis bagi anak-anak ini, dan keengganan sebagian orangtua mengakui bahwa putra/i-nya adalah individu autistik.


13. Di keluarga saya tidak ada yang autistik, jadi kami sebaiknya berbuat apa?


Mengetahui adanya gangguan perkembangan dan memahami ciri khas mereka ini akan sangat membantu individu autistik dan keluarganya dalam beradaptasi dengan lingkungan masyarakat umum.


14. Apa yang keluarga dengan anak autistik harapkan dari masyarakat dan lingkungan?


Keluarga dengan individu autistik sejak anak masih balita sudah mengalami banyak kesulitan dalam kehidupan sehari-hari, penyesuaian, menghadapi tuntutan masyarakat. Tingginya biaya penanganan dan sulitnya mendapatkan kesempatan pendidikan juga merupakan tekanan bagi orangtua.


Keluarga sangat mengharapkan lingkungan dan masyarakat dapat bersikap lebih empatik terhadap perjuangan mereka mendapatkan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anaknya, memahami kesulitan mereka, sehingga tidak mengolok-olok perilaku individu autistik atau menyalahkan orangtua bila individu autistik bersikap tidak seharusnya.


Semua orang tidak pernah meminta untuk dilahirkan, apalagi dilahirkan sebagai individu autistik.


Semua orangtua mengharapkan anaknya lahir sempurna, tetapi ketika putra/i-nya ternyata tidak sempurna, orangtua juga tidak bisa berbuat lain selain melanjutkan kehidupan sebaik mungkin.


Keluarga dengan individu autistik membutuhkan pengertian dan kesempatan, bukan belas kasihan ataupun umpatan.

Kamis, 23 Juni 2011

Konotasi Negatif Kata Autis

STOP! Penyalahgunaan kata Autis/Autisme

Trend Analogi Kata AUTIS-AUTISME dalam konotasi negatif

Para Pembaca situs yang budiman,


Di era tahun 1990-an, kata "Autisme" masih merupakan suatu kata yang belum begitu dikenal oleh masyarakat luas di Indonesia, kecuali orang tua yang dianugerahi anak penyandang autisme. Karena kurangnya informasi, kebanyakan orang lalu hanya mengira-ngira sendiri, misalnya autisme adalah suatu penyakit menular, mengerikan, atau autisme itu sama dengan down syndrome. Saat itu hanya ada satu Yayasan yang didirikan oleh sekelompok dokter dan orang tua anak penyandang ASD, yaitu Yayasan Autisma Indonesia di Jakarta yang membuat berbagai aktivitas dalam rangka peduli autisme. Media pun tidak banyak meliput dan membahas masalah autisme secara mendalam apalagi tuntas.


Informasi Autisme sebenarnya sudah banyak tersedia di internet dan buku-buku tapi kebanyakan menggunakan bahasa Inggris. Oleh karena itu lah kami merasa sangat tergugah untuk menyediakan informasi seputar autisme dan permasalahannya dalam bahasa Indonesia via dunia maya yang bisa mencapai tidak hanya di Jakarta (satu kota) tapi bisa menembus ke seluruh pelosok Indonesia.


Lain tahun 1990-an lain pula era tahun 2000-an. Sejak tahun 2000, era internet pun muncul dan banyak orang tua yang "melek" teknologi dan kemudian mencari informasi via internet. Situs kami mendapat banyak pengunjung yang kemudian bergabung dalam fasilitas mailing list yang kami sediakan. Mulai lah beberapa orang tua baik secara perorangan maupun kelompok mengadakan berbagai kegiatan Autism Awareness di beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya dan beberapa kota lain. Kemudian banyak sekali bermunculan yayasan, pusat terapi dan blog-blog pribadi yang membahas tentang Autisme, baik yang sekedar sharing pengalaman dengan anak sendiri maupun menyediakan informasi lengkap. Media pun mulai tertarik meliput berita seputar Autisme.


Sebagai hasilnya sedikit demi sedikit masyarakat mulai menyadari kehadiran anak autistik yang "berbeda" dengan anak-anak lain. Kata "Autis/Autisme" pun mulai bermunculan di Media cetak maupun elektronik. Tapi sayang sekali, yang kami amati, kata "Autis/Autisme" kemudian mulai dipakai oleh berbagai pihak baik oleh para aktivis, akademisi maupun artis televisi dalam konotasi yang negatif. Beberapa artis mulai menggunakan kalimat "dasar autis loe....." sebagai bahan lelucon di berbagai tayangan di televisi.
Beberapa aktivis dan akademisi juga mulai menggunakan kata Autisme untuk menganalogikan ketidakberesan pemerintah dan partai politik.


Tulisan-tulisan tersebut tentu saja membuat kaget dan sedih komunitas Autisme khususnya komunitas Puterakembara. Beberapa rekan milis termasuk saya sudah menyampaikan kesedihan kami pada penulis langsung, dan sangat menghimbau agar di masa yang akan datang beliau-beliau bisa mengganti kata Autisme dengan kata lain yang mungkin tidak akan menyinggung perasaan komunitas manapun.


Para penulis biasanya mengerti dan bereaksi positif, meminta maaf sambil tentunya membela diri sedikit :) dan mengajukan beberapa alibi kenapa mereka menggunakan kata Autisme sebagai analogi. Intinya menurut pengakuan mereka, tidak bermaksud menghina ataupun merendahkan anak penyandang autis maupun komunitas autisme. Biasanya, dengan lapang dada dan keikhlasan komunitas kami menerima pernyataan maaf tersebut.


Sebenarnya, kami menyadari sepenuhnya bahwa kata Autisme bukanlah milik kami. Kami mengerti bahwa peminjaman istilah, konsep atau gejala (analogi dan metafor) dari satu bidang ke bidang lain, dalam hal ini dari medis atau psikologis ke sosial politik adalah hal yang biasa dalam berbahasa.


Yang membuat komunitas kami "keberatan" atas pemakaian analogi tersebut, bukan karena masalah biasa atau tidak biasa, wajar atau tidak wajar, bukan juga masalah sensitivitas perasaan kami sebagai orang tua, tapi lebih ke arah pemikiran akan "dampak negatif" yang akan timbul di masyarakat untuk masa mendatang terutama bagi kehidupan masa depan anak-anak kami.


Sebagai moderator mailing list selama bertahun-tahun, saya tahu benar bahwa selama ini orang tua berjuang habis-habisan demi membantu anak-anak kami berkembang menjadi pribadi yang mandiri, punya empati, sekaligus tahu norma dan aturan.


Komunitas kami juga berjuang melakukan kegiatan Kampanye Peduli Autisme dengan harapan agar anak/individu autistik dapat diterima oleh masyarakat sebagai suatu bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat umumnya. Kami bersusah payah melakukan usaha sosialisasi untuk menyadarkan masyarakat agar dapat menerima anak/individu autistik apa adanya dengan segala kekurangan dan kelebihannya, dan tidak menjadikan kondisi Autisme sebagai bahan olok-olok.


Akhir-akhir ini malah ada laporan dari beberapa orang tua tentang kecenderungan penggunaan kata "Autis" sebagai bahan olok-olok di kalangan BlackBerry mania. Orang tua tentu saja merasakan kegundahan bahkan sakit hati. Kalau ditanyakan pada BB-Mania, mungkin saja mereka akan cepat menjawab tidak bermaksud menghina ataupun melecehkan para penyandang autis, mereka hanya membuat suatu "lelucon". Tapi kalau mereka melakukannya untuk make fun, bukankah itu suatu pelecehan juga? Menurut saya, kalau orang normal dengan sengaja dan sadar melakukan imitasi yang memperjelas "kekurangan" seseorang, itu merupakan suatu penghinaan (offensive).


Di bawah ini adalah beberapa kasus / tulisan:


1. Tanggal 2 Mei 2003, Prof. Mohamad Soerjani, staff Institute for Environmental Education and Development, di Harian Sinar Harapan. Tulisan berjudul "Autisme Sosial: "Penyakit" Ketidakpedulian di Kalangan Masyarakat".


2. Tanggal 22 April 2005, Bapak Dedi Haryadi, aktifis LSM Bandung Institute of Governance Studies/BIGS, di Harian Pikiran Rakyat. Tulisan berjudul "Parpol dan Parlemen yang Autis".


3. Tanggal 21 April 2008, Bapak Bima Arya Sugiarto, Direktur Eksekutif The Lead Institute Universitas Paramadina di Harian Kompas. Tulisan berjudul "Parpol Idap Autisme Sosial".


4. Tanggal 18 Agustus 2008, Bapak Hisyam Haikal, di Surat Pembaca Detik.com. Tulisan berjudul "Autisme melanda seluruh negeri".


5. Istilah Autis yang mulai populer di kalangan pengguna Blackberry (BB Mania) untuk menggambarkan keasyikan mereka kalau sedang menggunakan BB.


6. Iklan Indosat di Harian KOMPAS tanggal 26 April 2009 halaman 17 yang berbunyi: "Sejak memakai Blackberry saya jadi suka autis. Namun ternyata menjadi 'autis' itu sangat menyenangkan. Terima kasih kepada PT Indosat yang telah memberikan saya kesempatan menikmati BlackBerry Storm" --Marcel(artist)



Harapan kami, dengan himbauan ini mudah-mudahan tidak akan ada lagi yang menggunakan kata atau kondisi Autisme sebagai analogi dalam konotasi negatif untuk konsumsi publik di Media manapun. Dan kami akan terus konsisten melakukan surat himbauan semacam ini pada siapapun yang menggunakan kata "Autisme" sebagai analogi dalam konotasi negatif.


Sebagai mahluk ciptaan Tuhan, kami selalu berpendapat bahwa masing-masing individu pasti mempunyai sisi kelemahan sekaligus kelebihan, begitu juga anak/individu penyandang autistik ataupun anak berkebutuhan khusus lainnya, dan itu semua patut kita terima sekaligus hargai.


Semoga Tuhan selalu memberi kekuatan pada orang tua yang dianugerahi anak penyandang spektrum Autisme.


Terima kasih atas perhatian Anda.

Peran Saudara Kandung

PERAN SAUDARA SEKANDUNG PADA ANAK PENYANDANG ASD


Abstrak

Topik ini membahas tentang pentingnya peran Saudara Sekandung dalam proses meningkatkan kemampuan anak penyandang autis dalam halbersosialisasi dan berinter-aksi dengan orang lain di luar anggota keluarga.

Mengapa saudara sekandung ? dilihat dari segi hubungan dan emosi, saudarasekandung adalah orang yang paling dekat, dan sering melakukan kegiatan bersama serta yang paling mengetahui apa yang telah terjadi pada anak penyandang autis. Oleh karena itu saudara sekandung adalah orang yang paling tepat dalam membantu proses belajar.

Pengamatan ini dilakukan pada 2 anak laki-laki kami yang didiagnosa sebagai penyandang Sindrom Asperger dan 2 anak perempuan kembar kami yang normal selama 2,5 tahun. Sebagai orang tua kami berusaha memberikan pengertian dan penjelasan kepada 2 anak perempuan kami mengenai apa itu autis.

Untuk jangka panjang, saudara sekandung diharapkan dapat menggantikan fungsi orang tua yang tidak selamanya dapat mendampingi anak penyandang autis karena faktor usia.

Pendahuluan

Sebagai orang tua atau calon orang tua atau katakanlah manusia biasa, tentunya kita selalu berharap bahwa apabila suatu hari kelak tiba saatnya kita dianugerahi keturunan oleh Yang Maha Kuasa, kita ingin agar anak/keturunan kita adalah anak yang sehat jasmani dan rohani, sehat jiwa dan raga. Namun adakalanya keinginan atau harapan kita tidak sesuai dengan kehendak Yang Di Atas. Bagaimana kalau keadaan itu terjadi pada kita ?

Kehadiran anak penyandang autis dalam suatu keluarga sudah tentu akan mempengaruhi kehidupan seluruh anggota keluarga lainnya, terutama orang tua dan saudara sekandung. Orang tua dan saudara sekandung akan mempunyai hubungan yang relatif lebih lama dan lebih intensif dengan anak penyandang autis, dari mulai masa kecil, remaja, sampai dewasa. Tidak seperti hubungan interpersonal lainnya, hubungan ini melibatkan ikatan fisik dan emosional pada tahap-tahap kritis sepanjang kehidupan mereka.

Dibandingkan hubungan dengan orang tua, hubungan antar saudara sekandung akan bertahan lebih lama karena faktor usia. Karena itulah sebagian besar orang tua berharap saudara sekandunglah yang akan merawat dan menemani adik/kakaknya yang memiliki masalah setelah orang tua meninggal.

Anak yang memiliki saudara sekandung penyandang autis akan memiliki jenis hubungan yang berbeda dengan mereka yang sesama anak normal. Biasanya anak yang normal banyak mengalami stres dalam interaksi dengan anak autis tersebut. Namun demikian, tidak semua saudara sekandung anak autis akan mengalami stres yang berlarut-larut, tidak bahagia atau mengalami masalah yang berat.

Satu hal yang perlu diingat oleh kita sebagai orang tua adalah bahwa hubungan anak penyandang autis dengan saudara kandungnya adalah hubungan seperti layaknya hubungan saudara kandung anak-anak normal lainnya, di mana terdapat sisi yang positif dan di sisi lain ada hal yang negatif. Kadang kala penuh keakraban tetapi juga ada masanya hubungan itu memburuk. Hubungan tersebut akan terus berubah sesuai perkembangan usia dan kepribadian mereka.

Penerimaan Orang tua secara ikhlas terhadap anak penyandang autis

Pada saat kita menerima diagnosis dari dokter mengenai keadaan anak kita sebagai penyandang autis, reaksi kita pertama-tama pasti sedih, bingung, ada rasa tidak mau menerima kenyataan tersebut, dan yang terakhir tapi berbahaya adalah MALU. Pasti ada masa orang tua harus merenung dan tidak mengetahui tindakan tepat apa yang harus diperbuat. Tidak sedikit orang tua yang kemudian memilih tidak terbuka mengenai keadaan anaknya kepada teman, tetangga, bahkan keluarga dekat sekalipun, kecuali kepada dokter yang menangani anaknya itu. Ada juga sebagian kecil orang tua yang kemudian menyalahkan Tuhan dan berpikir kenapa "nasib buruk" itu menimpa diri mereka.

Kejadian tersebut di atas adalah umum dan biasa dialami oleh para orang tua anak penyandang autis. Namun berdasarkan pengalaman saya sebagai pengelola Website Puterakembara dan moderator dari Milis Puterakembara, pada saat ini, sejalan dengan makin banyaknya informasi mengenai autisme, orang tua telah banyak menyadari bahwa tindakan menyesali dan menutupi keadaan anak autis adalah TIDAK TEPAT. Memberikan penanganan yang tepat dan terarah serta sedini mungkin pada anak penyandang autis berarti memberikan kesempatan yang semakin besar pada mereka untuk dapat hidup Mandiri menuju masa depan yang lebih cerah. Mereka, anak-anak penyandang autis, anak-anak kita semua, sangat BERHAK untuk juga mendapatkan kehidupan yang lebih layak di masyarakat ini, di dunia ini.

Penerimaan dan keikhlasan kita sebagai orang tua benar-benar dituntut untuk mewujudkan "impian" dan "cita-cita" itu. Bagaimana kita akan dapat berbuat sesuatu dengan tepat kalau kita sendiri tertutup pada lingkungan dan malu mengakui bahwa anak kita ternyata memang berbeda dengan anak-anak normal lainnya. Anak penyandang autis pun mempunyai perasaan dan emosi seperti anak normal. Mereka akan mengetahui apakah mereka disayang dan dimengerti atau tidak.

Sebelum mengharapkan pengertian dan penerimaan oleh saudara kandung, oleh masyarakat luas bahkan oleh pemerintah, terhadap anak-anak kita yang "spesial" ini, terlebih dahulu kita sebagai orang tua yang melahirkan mereka harus menerima dengan lapang dada, serta menyayanginya dengan sepenuh hati.

Manusia mempunyai rencana, begitu juga TUHAN, pasti mempunyai rencana akan semua ini.


Penjelasan mengenai AUTISME kepada saudara kandung

Sebenarnya, yang paling memiliki peranan dalam hal kualitas hubungan saudara sekandung dengan anak penyandang autis, adalah orang tua masing-masing. Sejak usia dini, orang tua harus benar-benar memberikan gambaran dan informasi yang benar serta apa adanya mengenai apa itu autisme kepada saudara kandung. Dengan begitu mereka (saudara kandung) dapat pula menerima dan mengerti saudara yang menyandang autis itu secara apa adanya. Faktor lain yang sangat penting adalah saudara sekandung anak autis tersebut memang memiliki resilience (ketabahan dalam menghadapi masalah dan tahan terhadap stres) sehingga tidak mengalami gangguan yang berat (Harris, 1994; Powers, 1989).

Sebelum kita berharap bahwa anak kita yang lain yang normal dapat mengerti dan menerima saudara kandungnya yang penyandang autis, perlu kiranya kita memberikan penjelasan dan keterangan mengenai apa itu autisme. Penjelasan dapat diberikan sedini mungkin, tentunya bahasanya dapat disesuaikan dengan usia saudara kandungnya itu. Bahasa yang digunakan sedapat mungkin dibuat sederhana. Pengalaman saya, penjelasan kepada saudara kandung penyandang autis dapat dilakukan selagi si saudara kandung masih berusia balita.

Dengan perkembangan usia, saudara kandung akan semakin mengerti mengenai apa itu autisme. Lebih jauh setelah mereka sendiri berinter-aksi, mereka dapat menangkap bahwa ternyata memang ada perbedaan antara mereka yang normal dengan saudara kandungnya yang penyandang autis. Dengan kesadaran si saudara kandung akan keberbedaan mereka, tugas orang tua selanjutnya adalah harus selalu berusaha tanpa henti untuk menumbuhkan rasa pengertian dan penerimaan secara ikhlas akan keberbedaan itu. Ini merupakan bagian yang tersulit.

Kalau kita sebagai orang tua sudah dapat berlaku bijaksana dan adil, serta selalu memberikan penjelasan pada anak-anak kita yang normal secara berulang-ulang sampai si anak benar-benar ingat dan mengerti, saudara sekandung dapat menjadi 'terapis' khusus yang manjur bagi anak autis.




Peranan Saudara Sekandung pada Anak Penyandang Autis

Berdasarkan pengalaman saya dan beberapa orang tua anak penyandang autis, telah terbukti bahwa ternyata cukup banyak saudara sekandung anak autis yang bisa mengerti dan bahkan cukup mampu menyesuaikan diri dengan keadaan adik atau kakaknya yang menyandang autis. Ada juga sebagian dari mereka yang mengalami banyak konflik misalnya memiliki rasa iri karena menganggap orangtua mereka lebih sayang pada anak autis, atau menyesali kenapa mereka mempunyai saudara kandung penyandang autis.

Pengalaman saya sendiri, ke dua anak laki-laki saya penyandang Asperger's syndrome sangat terbantu oleh saudara kandungnya yang normal (2 anak perempuan kembar), dalam hal bercanda, cara bersosialisasi, bermain seperti layaknya anak normal lainnya.

Kira-kira 4 tahun yang lalu, ketika anak kembar saya masih berusia 1 tahunan (belum bisa bermain dengan kakaknya), kedua kakak laki-lakinya penyandang asperger itu sama sekali tidak mau berteman, lebih suka sendiri, bermain computer, dan tidak suka dengan cerita anak-anak seperti dora emon, dan cerita-cerita kartun lainnya di Televisi. Kedua anak laki-laki saya lebih asyik dengan cerita "Animal planet", "National Geographic", " Animal hunter", "The Science Inventor", "The Planet", dan "Encyclopedia".

Hobby mengetahui hal-hal yang ilmiah sebenarnya tidak salah. Akan tetapi pada saat mereka harus berbicara dengan teman-teman sebayanya di Sekolah, akan terlihat ketimpangan di situ. Karena ke dua anak saya itu tidak bermasalah dalam kemampuan akademis, juga tidak hiper-aktif dan tidak menggangu maka mereka dapat masuk di Sekolah umum. Teman-temannya di kelas (Sekolah umum) merasa anak saya aneh, sehingga otomotis mereka pun tidak dapat bermain bersama-sama. Anak saya pun menganggap teman-temannya nakal dan tidak sejalan dengan pikirannya, maka anak saya lebih banyak sendiri di kelas.

Seperti kebanyakan anak perempuan, kedua anak kembar perempuan saya tumbuh menjadi anak yang cerewet, bawel, dan supel dalam bergaul. Saya mencoba untuk selalu melibatkan kedua anak perempuan saya dalam setiap kegiatan kedua anak laki-laki saya di rumah. Contohnya apabila mereka ingin mendapatkan sesuatu, mereka berempat harus antri. Contoh lain, pada saat tertentu (biasanya hari libur) mereka selalu berebut ingin dilayani oleh ibunya seperti memakai baju, mandi, dan masing-masing ingin yang nomor satu. Saya segera mensyaratkan mereka untuk "dam-suit" atau "hompipah" berempat. Dan mereka laksanakan itu dengan penuh semangat dan gembira.

Sekarang anak saya yang pertama laki-laki berumur 10,5 tahun, yang kedua laki-laki berumur 8 tahun, sedang yang ketiga kembar perempuan dan normal berumur 5 tahun 7 bulan.

Mereka sudah banyak mengalami perubahan ke arah yang lebih baik, mereka dan kedua saudara perempuannya sudah dapat bermain bersama seperti layaknya anak-anak normal lainnya. Mereka berdiskusi bersama, nonton cartoon di TV bersama. Pada saat nonton, mereka bisa tertawa bersama apabila ada yang lucu. Kedua anak perempuan kembar saya banyak mengajarkan mereka permainan yang layak dimainkan oleh anak-anak normal seusianya. Di Sekolah pun kedua anak laki-laki saya sudah mulai dapat bermain, walaupun hanya dengan 2 atau 3 teman saja. Tapi lumayan, itu sudah merupakan suatu kemajuan bagi saya. Sepulang Sekolah pun mereka sudah mulai dapat bercerita tentang apa yang terjadi di kelas.

Tak bosan-bosannya, saya selalu menjelaskan pada anak perempuan saya akan keberbedaan kakak-kakaknya. Sebaliknya, pada ke dua anak laki-laki saya penyandang asperger, saya selalu katakan bahwa mereka tidak boleh terlalu menuntut dapat dimengerti oleh kedua saudara perempuannya. Ada kalanya kedua anak perempuan saya juga marah, kesal dan tidak mau mengerti perlakuan dari ke dua kakak-kakaknya. Tapi itu saya nilai masih dalam tahap wajar.

Yang paling penting sebenarnya adalah saya ingin menekankan pada mereka bahwa mereka memang berbeda tapi mereka harus dapat menerima keberbedaan itu dengan pengertian. Mereka harus tahu dan menyadari bahwa tidak ada manusia yang sama dan sempurna di dunia ini. Hal itu yang ingin saya tanamkan pada mereka berempat.




Akibat yang mungkin timbul dalam melibatkan Saudara Sekandung pada masalah Anak Penyandang Autis

Setelah proses penjelasan dan memberi pengertian pada saudara sekandung dilaksanakan, secara umum ada beberapa kemungkinan masalah yang perlu dipikirkan berupa akibat yang mungkin akan timbul, terutama apabila mereka telah remaja atau menjelang dewasa.

Saudara kandung akan mulai berpikir dan menduga-duga tentang apa yang salah pada anak autis. Karena menyangkut keturunan, mungkin saja kemudian Ia dapat menjadi takut akan terkena autis, merasa bersalah atas keadaan saudaranya yang autis atau merasa bersalah karena perasaan benci yang dirasakannya. Sebagian anak menjadi terpaksa patuh pada orangtua sebagai kompensasi dari ketidakmampuan saudaranya yang autis. Ada juga yang memiliki perasaan ambivalen terhadap anak autis : sayang tetapi kesal dengan keadaan saudaranya, kasihan bila anak autis diejek teman-temannya tetapi malu dengan kondisi saudaranya itu. Sering pula muncul perasaan bahwa dunia tidak adil karena ia harus memiliki kakak atau adik yang autis.

Sebaliknya apabila pemahaman dan pengertian saudara kandung mengenai autis semakin baik, dia bahkan yang akan memberikan penjelasan yang cukup baik dan benar kepada teman-teman mengenai kondisi saudaranya itu.

Namun demikian, Jangan lupa bahwa masalah yang mungkin dialami oleh anak-anak normal dalam keluarga dapat juga dialami oleh anak-anak normal yang mempunyai saudara kandung penyandang autis. Mereka bisa saja merasa iri atas perlakuan khusus orangtua terhadap saudaranya yang autis. Akibatnya mungkin kadang-kadang mereka yang normal, sengaja berperilaku buruk untuk memperoleh perhatian orangtua. Kalau sudah begitu, lagi-lagi kita sebagai orang tua dituntut untuk bersikap adil. Jangan sampai waktu kita hanya tersita untuk anak kita yang menyandang autis.

Akibat yang paling parah adalah apabila kemudian si Saudara kandung merasa terbebani dengan tugas yang diberikan oleh orang tua untuk membantu dan menjaga saudaranya yang autis. Kemudian si saudara kandung mulai sering mencemaskan masa depan saudaranya yang autis dan perannya sebagai pengganti orangtua di masa depan.

Melihat begitu banyaknya akibat/masalah yang mungkin timbul akibat proses melibatkan saudara kandung dalam kehidupan anak penyandang autis, maka kita perlu juga memikirkan dengan semaksimal kemampuan kita sebagai orang tua untuk mendidik sejak dini dan membuat anak kita penyandang autis untuk dapat hidup Mandiri dan berguna minimal bagi dirinya sendiri.

Hal lain yang perlu dipikirkan juga adalah proses melibatkan saudara kandung, harus disesuaikan dengan umur dan pengertian dari si saudara kandung itu sendiri. Janganlah menuntut dan melibatkan terlalu banyak.

Mungkin saja akibat atau masalah negatif yang dikemukakan di atas itu tidak akan terjadi pada kita semua. Pada kenyataannya, sejauh pengamatan saya, peran saudara kandung dalam kehidupan normal pun selalu dapat di andalkan untuk membantu saudaranya yang lain yang sedang mendapatkan kesusahan.


Penutup
Semua orang tua yang mempunyai anak penyandang spektrum autisme tentunya merasakan kesulitan yang tidak terbayangkan sebelumnya dengan kehadiran anak tersebut. Sebagai orang tua, umumnya ingin selalu memberikan sesuatu yang terbaik bagi semua anak-anak kita baik anak yang autis maupun anak yang lain yang normal.

Masalah yang terbesar yang saya alami sebagai orang tua adalah Pembagian waktu. Pembagian waktu antara merawat anak autis dengan anak yang lain secara seimbang dan seadil-adilnya, waktu dengan pasangan, dengan pekerjaan saya sebagai Pimpinan Yayasan Puterakembara dan dengan urusan rumah tangga lain. Saya pribadi sangat membutuhkan bantuan dari banyak pihak dalam hal ini. Yang paling utama adalah dari pasangan kita, orang tua, dan saudara dekat kita. Dan kebetulan saya sangat beruntung mendapatkan dukungan dari pihak-pihak yang saya sebutkan itu. Kalau tidak saya tidak dapat membayangkan akan jadi apa saya sekarang.

Dukungan dari Yang Di Atas sebagai Maha Pencipta, Maha Kuasa, dan Maha Tahu tidak dapat diabaikan begitu saja. Dia lah yang memberikan kita kepercayaan untuk mendapatkan anak yang "spesial" ini. Oleh karena itu, bagaimana pun keadaan anak yang telah dipercayakan kepada kita itu, kita harus memelihara dan merawatnya dengan sebaik-baiknya.

Kebesaran hati dalam menerima kenyataan yang ada sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Setiap cobaan yang diberikan oleh Nya pasti mengandung hikmah.

Saya berharap sedikit uraian saya di atas mengenai "Peran Saudara Sekandung pada Anak Penyandang ASD", yang diambil berdasarkan dari pengalaman saya dan referensi dari beberapa tulisan para ahli, dapat membantu para orang tua lain dalam menghadapi anak-anak mereka.